KEMURAHAN YANG MELAMPAUI SEGALA UKURAN
Bacaan: Mazmur 103:10-12
"Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."
Jauh di dalam diri manusia tertanam sebuah kecenderungan alami, membalas setimpal. Ketika seseorang berbuat baik, kita ingin membalasnya dengan kebaikan. Ketika seseorang menyakiti, hati kita bergejolak menuntut keadilan. Inilah cerminan jiwa manusia yang hidup dalam logika sebab-akibat, di mana setiap tindakan dianggap wajar untuk mendapat balasan yang sepadan.
Namun Tuhan bergerak di luar logika itu. Di saat kita jatuh dalam dosa dan gagal memenuhi standar-Nya, Dia tidak mengangkat tangan untuk menghukum setimpal kesalahan kita. Sebaliknya, Dia membuka tangan untuk merangkul. Kemurahan-Nya bukan sekadar toleransi, melainkan kasih yang aktif dan nyata - kasih yang memilih untuk tidak mengingat apa yang seharusnya layak kita terima. Pengampunan itu bukan karena kita pantas, melainkan karena Dia murah hati. Pemazmur melukiskannya dengan gambaran yang menakjubkan: sejauh jarak langit dari bumi, sejauh timur dari barat - itulah ukuran pengampunan-Nya yang tak terjangkau oleh pikiran manusia.
Daud menulis mazmur ini bukan sebagai teori, melainkan sebagai kesaksian hidup. Ia pernah terjatuh begitu dalam, namun kemurahan Allah mengangkatnya kembali. Dan kemurahan yang sama itu tersedia bagi kita hari ini.
Merenungkan pengampunan Allah bukan hanya membuat kita merasa lega - ia seharusnya mengubah cara kita hidup. Ketika kita benar-benar menyadari betapa besar hutang dosa yang telah dihapuskan, hati kita tidak bisa tinggal diam. Kita terdorong untuk hidup dengan rasa syukur yang tulus, mengakui kelemahan kita dengan jujur, dan berjalan dalam ketaatan bukan karena terpaksa, melainkan karena cinta.
Apakah kita sungguh-sungguh menghargai kemurahan ini, ataukah kita menerimanya begitu saja?








